Kontak Yoga dengan Kalachakra adalah Berdana dan Catur Apramana (Maitri, Karuna, Madita, dan Upeksa)

Majalah dharma talk edisi Agustus 2009 telah terbit dalam versi electronic dan dapat di baca dan download selengkapnya di : http://www.shenlun.org/dharma-talk/2009/agustus/
Berikut ini salah satu artikel dari dharma talk edisi Agustus 2009 yang berjudul Kontak Yoga dengan Kalachakra adalah Berdana dan Catur Apramana (Maitri, Karuna, Madita, dan Upeksa)
Oleh : M.V.A Lian Sheng

Hari ini saya akan membahas tentang “kebijaksanaan bagai cermin”. Dalam tradisi Tantra, Panca Dhyani Budha adalah Vairocana, Akshobya, Ratnasambhava, Amitabha, dan Amoghasiddhi. Panca Dhyani Budha kemudian menjelmakan diri menjadi sesosok pangeran dharma yaitu Vajrasattva yang juga dikenal sebagai Vajrapani dan Vajracitta. Vajrasattva, Vajrapani, dan Vajracitta adalah nama nama yang berbeda untuk ke tiga tubuh (trikaya) dari Vajrasattva.

Panca Dhyani Budha digunakan untuk melambangkan Panca Maha Prajna dari setiap Budha. Budha di sebelah Timur (Akhsobya) melambangkan kebijaksanaan bagai cermin. Menurut “Komentar Tentang Vijnanamatra”, kebijaksanaan bagai cermin dapat muncul dari kesadaran alaya kita (gudang kesadaran). Dulu ada seseorang bertanya kepada saya, “Apakah itu kebijaksanaan bagai cermin?” Belum lama ini Acarya Lian Lian bertanya kepada saya hal yang sama. Sekarang saya akan menjelaskan nya kepada kalian. “Kebijaksanaan bagai cermin” adalah kebijaksanaan yang murni dan sempurna. Ia adalah kesadaran murni di benak kita yang murni dan tidak terpolusi. Saya akan jelaskan lagi dengan cara lain. Sewaktu kita memiliki Kebijaksanaan bagai cermin, kita akan dapat membedakan sifat baik dan sifat buruk manusia. Bila kita tidak memiliki kebijaksanaan ini, kita tidak akan dapat menjelaskan sebab (alasan) dari banyak urusan karena kondisi (latar belakang) dari peristiwa peristiwa itu begitu sangat rumit.

Sungguh sulit untuk mencapai tahap pencerahan ini. Karena garis antara baik dan buruk, boleh atau tidak boleh, sangat tipis dalam banyak hal. Di jaman sekarang, segala sesuatu tidaklah mudah dimengerti. Sungguh sulit membuat sebuah peraturan yang menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Kita mungkin tidak bisa mendefinisikan apa itu baik dan apa itu buruk. Kita harus mengandalkan akal sehat untuk menilai apa yang baik dan apa yang buruk. Bahkan dalam aliran Satyabudha kita, kita tidak selalu mendapatkan kesepakatan setiap saat dalam segala hal. Sebagian orang menganggap saya sangat adil. Sedangkan orang lain lagi menganggap saya sangat tidak sempurna. Ini sangat terbukti dari kenyataan bahwa begitu sebuah peraturan dibuat, ada orang orang yang langsung tidak setuju. Saya gunakan Kurukulle Yoga sebagai contoh. Yoga ini dilatih untuk tujuan keharmonisan (wasikarana). Setelah mahir dalam yoga ini, seseorang mungkin bisa membuat bubuk cinta untuk banyak orang. Bubuk ini dapat digunakan untuk meningkatkan cinta kasih, memperbaiki keharmonisan keluarga, dan membuat suami istri rukun romantis. Bukankah produk ini pada dasarnya baik? Sebaliknya, bila bubuk cinta ini dijual ke orang yang tidak benar, maka bubuk itu bisa digunakan untuk mempelet banyak gadis sehingga menimbulkan banyak masalah sosial. Bubuk cinta ini berarti bisa juga menjadi sumber dari segala kejahatan. Itu sebabnya kita harus menggunakan kebijaksanaan bagai cermin untuk menentukan apa yang baik dan apa yang buruk. Bila kita dapat lakukan itu, maka kita mempunyai kebijaksanaan bagai cermin.

Sewaktu kita dapat membuka gudang kesadaran dari benak kita, maka benak kita akan sejernih cermin. Bila ini terjadi, maka kita dapat dianggap sebagai “Judge Bao” (Hakim Legendaris yang terkenal adil) karena kita bisa melihat kebenaran dari segala sesuatu dengan jelas. Segala keputusan yang kita buat adalah benar. Setiap hari saya harus menggunakan kebijaksanaan bagai cermin untuk mengamati sesuatu hal dengan jelas sebelum saya menulis artikel seperti di kolom suratkabar Satyabudha.

Saya akan lanjutkan pembahasan tentang kebijaksanaan bagai cermin. Seseorang bertanya kepada saya bagaimana caranya melatih kebijaksanaan bagai cermin. Itu pertanyaan yang baik. Yang saya bisa tambahkan adalah bahwa yoga ini sangat mirip dengan altar cermin dan yoga tubuh ilusi. [Catatan: Altar Cermin dan Yoga Tubuh Ilusi dibahas dengan cukup terperinci di buku “Padmakumara” seri ke 17].

Di jaman dulu, banyak sadhaka di India dan Tibet menggunakan cermin dalam membuat altar suci. Mereka menaruh cermin cermin di berbagai sisi sehingga sewaktu mereka duduk di ruang altar, mereka dapat melihat wujud mereka dari seluruh penjuru, apakah itu kiri, kanan, depan, ataupun belakang. Tentu saja bila kita sekarang tidak tahu bagaimana membuat altar suci seperti itu, kita bisa meminta seorang arsitek untuk membuat pola nya untuk kita. Persyaratan nya adalah kita harus bisa melihat banyak wujud diri kita sendiri sewaktu sedang duduk di ruang altar. Bila kita menempatkan Yidam di kepala kita, maka kita akan dapat melihat wujud Yidam itu di semua cermin yang terpasang. Para patriak Tantra di jaman dulu menyebut latihan ini sebagai “Memutar Dharma Cakra 1000 kali” karena dampak dari satu acara sadhana adalah sama seperti 1000 kali acara sadhana.

Coba renungkan bagaimana ini bisa terjadi. Meskipun kita hanya seorang diri di ruang altar, ada ribuan wujud diri kita di cermin cermin. Ini adalah upaya efektif untuk mencapai hasil berlipat ganda. Bila kita melakukan upacara api homa di ruang altar seperti itu, maka dampaknya akan sama seperti melakukan upacara homa 1000 kali. Begitu kita dapat memahami doktrin dari “Memutar Dharma Cakra 1000 kali”, kita dapat mengaplikasikannya ke berbagai kegiatan bhavana lainnya seperti dalam menyebut nama Budha dan menjapa mantra. Ini adalah metode hebat yang hanya ditemukan dalam Tantrayana dan tidak di aliran Budhisme lainnya. Jadi, para patriak Tantra di masa lampau berulang kali menyatakan bahwa mereka yang tahu cara melatih di altar cermin akan memperoleh keberhasilan besar. Bagaimana kita melatih kebijaksaan bagai cermin? Kita harus duduk di depan altar cermin dan melihat Yidam dan diri secara silih berganti. Kita terus membandingkan dan mengkontraskan perbedaan antara kedua nya. Dengan terus silih berganti berkonsentrasi pada Yidam ke diri dan dari diri ke Yidam, kita akan dapatkan bahwa tubuh kita diisi oleh si Yidam setelah jangka waktu tertentu. Ini adalah manifestasi penyatuan diri, Yidam, dan wujud di cermin. Seperti kalian bisa analisa, cara melatih kebijaksanaan bagai cermin sangat mirip dengan yoga tubuh ilusi. Saya rasa kebijaksanaan bagai cermin adalah suatu yoga yang sangat mendalam karena kita juga belajar menggunakan “Pemutaran Dharma Cakra 1000 kali” dalam proses ini. Saya selalu mengamati diri lewat cermin sehingga tubuh, ucapan, dan pikiran saya dapat semurni Yidam. Yoga ini dianggap sukses bila kita akhirnya mencapai yoga dengan Yidam.

Seperti pernah saya sebutkan, para sadhaka yang telah menguasai yoga ini bisa melihat uap, Yidam, pancaran sinar sinar, dan negri Budha muncul di cermin cermin. Mereka bisa dapatkan diri mereka sedang di alam Sukhawati atau sedang makan buah dewa atas undangan Ibu para dewa. Bila kita dapat melihat hal hal diatas di cermin kita, maka kita mengalami keberhasilan (yoga). Dalam kondisi kondisi itu, sangat penting untuk tetap tenang dan tidak meminta apapun. Bila kita mulai meminta kesaktian dan lain lain, kita bisa segera terjatuh ke jalan sesat. Kesimpulan nya, ini adalah yoga yang baik untuk dilatih. Tapi kita harus tetap tenang, stabil, dan mempunyai penguasaan diri. Kalau tidak, kita harus menanggung resiko menjadi gila. Demikian untuk hari ini.
Om Mani Padme Hum.

Dalam majalah dharma talk ini juga berisi penjelasan mengenai:

  • * Peraturan Tantra dalam menerima abhiseka
  • * Acarya Thubten Dhargye datang ke Taiwan atas saran Dewi Tara untuk mencari orang bermarga “Luo”
  • * Lianhua Sommay yang memenangkan lotere utama
  • * “Kalyanamitra! Orang sesat hanya mengucapkannya saja, ketika mengucapkannya, ada yang asal bicara dan keliru. Jika menjalankan semua yang diucapkannya, itulah yang dinamakan sifat sejati. Dharma yang dicerahi ini disebut Dharma Prajna.” Mahaguru menyingkap makna sejati dari kalimat ini lewat 1 kata: keseriusan. Yang dimaksud dengan menjalankan semua yang diucapkannya adalah keseriusan. Sementara ceramah yang disampaikan Lama Jiuru dan Acarya Lianman juga: keseriusan. Mahaguru juga memetik dialog Zen antara Guru Zen Xuansha dan Guru Zen Guichen untuk menerangkan apa itu keseriusan, apa itu sifat sejati. Zen justru mengungkapkan sifat sejati lewat keseriusan.
  • * Ketika Maha Guru bangun tidur pagi – pagi, Maha Guru menemukan ratusan butir Sarira.
  • * Sadhaka seharusnya menjauhi kilesa hati tidak melekat pada kondisi
  • * lewat kebijaksanaan Buddha yang mahasempurna berceramah tentang DIKTAT HEVAJRA – SUNYATA DI TENGAH MAHASUKHA. Buddha Hidup Liansheng berkata, apa siddhi yang diperoleh setelah berhasil mencapai tingkat “Hevajra”? Siddhi yang diperoleh setelah mencapai tingkat “Hevajra”adalah dapat menaklukkan 4 Mara, semua Mara pun hilang, kerisauan terputus, dapat mengendalikan hidup dan mati, serta telah mendekati kebuddhaan.
  • * Kontak Yoga dengan Kalachakra adalah berdana dan catur Apramana (Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa)
  • * Seseorang bertanya kepada Maha Guru bagaimana caranya melatih kebijaksanaan bagai cermin. Itu pertanyaan yang baik. Yang saya bisa tambahkan adalah bahwa yoga ini sangat mirip dengan altar cermin dan yoga tubuh ilusi. [Catatan: Altar Cermin dan Yoga Tubuh Ilusi dibahas dengan cukup terperinci di buku “Padmakumara” seri ke 17]. Di jaman dulu, banyak sadhaka di India dan Tibet menggunakan cermin dalam membuat altar suci. Mereka menaruh cermin cermin di berbagai sisi sehingga sewaktu mereka duduk di ruang altar, mereka dapat melihat wujud mereka dari seluruh penjuru, apakah itu kiri, kanan, depan, ataupun belakang. Tentu saja bila kita sekarang tidak tahu bagaimana membuat altar suci seperti itu, kita bisa meminta seorang arsitek untuk membuat pola nya untuk kita. Persyaratan nya adalah kita harus bisa melihat banyak wujud diri kita sendiri sewaktu sedang duduk di ruang altar. Bila kita menempatkan Yidam di kepala kita, maka kita akan dapat melihat wujud Yidam itu di semua cermin yang terpasang. Para patriak Tantra di jaman dulu menyebut latihan ini sebagai “Memutar Dharma Cakra 1000 kali” karena dampak dari satu acara sadhana adalah sama seperti 1000 kali acara sadhana.
  • * Buddha Hidup Liansheng menyelamatkan seluruh penumpang pesawat UA949 dari musibah
  • * Kebijaksanaan agung dari tiada pikiran

==================================================================

Bagi temen temen sedharma yang ingin mendapatkan hard copy majalah dharma talk dapat mengisi formulir berlangganan majalah dharma talk yang dapat di http://www.shenlun.org/dharma-talk

Bagi temen temen sedharma yang berminat menjadi donatur dharma talk , dapat  mengisi formulir donatur dharma talk yang dapat di peroleh di sini dan mengirimkan kembali ke redaksi Dharma Talk melalui email, post atau fax vihara.

Majalah Dharma talk juga menerima :

  • Pemasangan kolum sutra atau mantra -Untuk informasi lebih lanjut mengenai setting, ukuran, tipe kolom mantra dan sutra dapat menghubungi redaksi melalui email di dharma.talk@shenlun.org atau contactus@shenlun.org untuk keterangan lebih lanjut
  • Pemasangan iklan. Iklan yang terpasang di dalam Majalah Talk akan di baca dan di lihat hampir semua umat zhen fo zong dan orang yang berjodoh di seluruh Indonesia, karena majalah ini di bagi bagikan ke berbagai wilayah indonesia dan beberapa kota di negara Malaysia.

Selain dari beberapa cara yang telah di jelaskan di atas, Majalah dharma talk juga membuka cara lain bagi temen temen yang berminat untuk membantu upaya redaksi melakukan penyampaian dharma dengan:

  • Berpartisipasi dalam tim Dharma Talk
  • Mengirimkan cerita pengalaman kontak batin yang di alami
  • Mengirimkan cerita yang mengandung Dharma yang berkesan
  • Mengirimkan Foto/Gambar unik yang berhubungan dengan Budha Dharma

Redaksi Majalah Dharma Talk
Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya (聖輪雷藏寺)
Jalan sayangan Lrg. Rumah Kuning Lama No. 619 Palembang
Telp. (0711) 350 798 Fax. (0711) 320 124
Email: contactus@shenlun.org
Website: http://www.shenlun.org
Blog : http://blog.shenlun.org
Facebook: www.facebook.com/VVBS.Palembang
Youtube: http://www.youtube.com/j1ngen

Leave a comment

Your comment