Liputan dan Dokumentasi Upacara Api Homa Pemberkahan Amitabha Buddha

Temen – temen,
berikut ini adalah dokumentasi Upacara Api Homa Pemberkahan Amitabha Buddha

Liputannya adalah sebagai berikut

Rabu, 22 Desember 2010, Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya menyelenggarakan Upacara Api Homa pemberkahan untuk memperingati hari suci Amitabha Buddha. Upacara ini dipimpin oleh Vajra Acarya Lian Yuan (釋蓮元金剛上師主壇), di dampingi oleh para Bhikkhu Lhama (眾法師護壇), dan Pandita Lokapalasraya(助教)
Antusias umat mengikuti Upacara Api Homa, terbukti dari banyaknya umat yang hadir dan mengisi kayu homa serta formulir pemberkahan. Mereka menuliskan nama keluarga mereka yang pada saat upacara baik hadir maupun yang berhalangan hadir. Tujuan dari penulisan nama di kayu homa adalah kita memohon agar diri kita sama seperti kayu tersebut dimasukkan ke dalam tungku dan terbakar habis sehingga karma buruk kita terkikis sedikit demi sedikit dan terbakar oleh api. Cara penulisan kayu homa itu sangat mudah, hanya dengan menuliskan nama saja di selembar kayu atau lebih dari satu kayu. Tapi, kayu ini hanya boleh diisi oleh satu nama saja, tidak dianjurkan untuk menulis kayu homa untuk satu keluarga atau lebih dari satu nama dalam satu lembar kayu, karena kayu homa itu melambangkan tubuh dan karma kita, setiap manusia mempunyai karmanya yang berbeda.

Upacara Api Homa berlangsung pada pukul 19.30 WIB yang diawali dengan menyanyikan lagu pendupaan. Kemudian puja bakti dimulai dari mantra pembersihan hingga menjapa mantra yidam yaitu Amitabha Buddha “暡。阿獮爹哇。些。” (Om. a mi die wa. xie.)

Setelah pembacaan mantra yidam Amitabha Buddha kita mempersilahkan Vajra Acarya untuk menempati kursi homa, memberkati kayu homa dan persembahan, memutar japamala untuk memberi pemberkahan, melakukan simabhandana terhadap tungku homa, kemudian puja homa dimulai dengan menyalakan api, memasukkan persembahan ke dalam tungku homa satu per satu dan memperagakan mudra tolak bala dan pemberkahan.

Visualisasi saat homa ini adalah, kita bervisualisasi sarana Puja berubah menjadi banyak seperti gunung dan samudra tak terhingga, semuanya dipersembahkan kepada Mulacharya, Guru Silsilah, Adinata, para Buddha Bodhisattva, semua Dewa Naga, Vajra Dharmapala, semua dipersembahkan secara sempurna. Lalu Visualisasi ditengah tungku, api yang berpijar membakar diri sendiri, sehingga semua karma buruk terbakar menjadi hawa hitam, keluar melalui pori – pori, diri sendiri menjadi bersih. Karma buruk pun lenyap. Serta visualisasi bijaksara Xie (bijaksara sesuai dengan yidam) berubah menjadi Amitabha (Yidam) dan masuk ke cakra hati kita, kita dan Amitabha (yidam) menjadi satu dan masuk ke dalam tungku homa sehingga tubuh kita menjadi bersih. Amitabha (yidam), kita dan api menjadi satu. Terakhir untuk menutup semua kekurangan dan kesalahan kita dalam melakukan pertobatan kita membaca mantra Sataksara sebanyak 3 kali. Dan melafalkan Mantra Paripurna.

Untuk mantra Amitabha Buddha dan bulatan penjapaannya, dapat download di http://www.shenlun.org/mantra/mantra-amitabha/
Untuk download tata ritual sadhana Amitabha Buddha, dapat download di http://www.shenlun.org/liturgi/tata-ritual-sadhana-amitabha-buddha/

Setelah upacara selesai, Vajra Acarya menyampaikan dharmadesana kepada umat yang hadir. Inti dari ceramah berliau adalah beliau menceritakan tentang pengalaman beliau ketika berada di daerah Pontianak. Di pontianak Beliau mengunjungi ke daerah dayak, dimana di sana terdapat sebuah cetya zhen fo zong. Beliau mengatakan bahwa umat zhen fo zong yang berada di sana bertanya kepada beliau dengan 3 pertanyaan yang bagus sekali.
3 pertanyaan itu adalah Mengapa Maha Guru disebut Buddha hidup (Huo Fo / 活佛)?
Kenapa Tantrayana Zhen Fo Zhong diberi nama Zhen Fo Zong?
Kenapa kita ada catur sarana, tetapi di vihara lain hanya Trisarana?

Jawabannya adalah Maha Guru dikatakan sebagai Buddha Hidup karena seseorang dikatakan sebagai Buddha Hidup yang berarti seseorang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan Buddha pada kehidupan saat ini. Menurut bahas tibet dipanggil dengan sebutan Rinphoche, tetapi Rinphoche dalam bahasa mandarin (Ren Po Qie) memiliki sedikit perbedaan dengan bahasa mandarin yang artinya seseorang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan Buddha dan tidak ada masa sekarang dan masa lalu artinya tidak tahu kapan Rinphoche itu ada.

Dan untuk pertanyaan yang kedua jawabannya adalah Zhen Fo Zong adalah semua dharma yang diajarkan oleh Mahaguru ya itu lah Zhen Fo Zong, seperti bertanya apa itu theravada? ingin mengetahui lebih jelas kita harus masuk kedalam ajaran tersebut terlebih dahulu sehingga kita akan tahu sendiri artinya secara lengkap.

Jawaban pertanyaan yang ketiga kenapa Zhen Fo Zong terdapat catur sarana, bukan trisarana? Kenapa harus berlindung kepada Guru? Karena Guru yang telah mengajarkan dan membimbing kita, maka kita harus berguru padanya. Sama halnya dengan kita belajar disekolah, kita harus berguru juga dengan guru yang ada di sekolah untuk mendapatkan pelajaran dan membimbing kita. Di dalam Tantrayana itu sangat menjunjung tinggi seorang Guru yang telah mencapai tingkat Kesempurnaan Buddha maka terdapat Catur Sarana (Namo Guruphe, Namo Buddhaye Namo Dharmaye Namo Sanghaye/ 南摩古魯貝.南摩不打耶.南摩達摩耶.南摩僧伽耶 untuk download mantra ini bisa ke http://www.shenlun.org/mantra/mantra-catur-sarana/).

Selesai menyampaikan ceramah-Nya, Vajra Acarya Lian Yuan mewakili Maha Guru untuk memberikan Abhiseka Pemberkahan Amitabha Buddha.

Upacara berjalan dengan sukses dan sempurna, berkat pancaran cahaya adhistana dari Maha Guru dan Para Buddha Bodhisattva.

Terima kasih kepada semua teman – teman yang telah berpartisipasi dan mendukung suksesnya Upacara ini, semoga Maha Guru dan para Buddha Bodhisattva selalu memberkati anda dan keluarga.

Semoga Maha Guru selalu memutar roda dharma.

Om Mani Padme Hum

Leave a comment

Your comment