Hukum Karma Seorang Pembunuh

Majalah dharma talk edisi November 2011 telah terbit dalam versi electronic dan dapat di baca dan download selengkapnya di : http://www.shenlun.org/dharma-talk/2011/november/. Berikut ini salah satu artikel yang berjudul Hukum Karma Seorang Pembunuh dari Majalah dharma talk edisi November 2011

Saat ini adalah malam tahun baru. Aku bersama keluarga sedang duduk bersama didepan api unggun sementara angin dingin bertiup dengan kencang diluar. Kami sedang makan malam ketika teman akrab, Pak Hsieh, datang ke rumah dengan tergesa gesa. “Hei! Lu,” katanya. ”Kau harus menolong keponakanku! Ia sedang sekarat.”

Ditangannya menggenggam arca Bodhisattva Veda. Pak Hsieh adalah seorang yang serius menekuni ajaran Budhisme.

“Dimana keponakanmu itu?”
“Ada di Wu-feng Center. Semua anggota keluarga sedang disana berdoa untuknya.”

Setelah mengambil jaketku dan memberikan hormat di altar Buddha, segera aku pergi bersamanya naik taksi. Dalam perjalanan, temanku menceritakan kisahnya:

Liu Min-yu, keponakannya, adalah seorang mahasiswi tingkat tiga disebuah universitas yang berprestasi cukup baik. Tetapi, dua tahun sebelumnya, ia mulai bertingkah laku aneh. Ia sering kali bergumam dan berkata – kata yang tidak masuk di akal. Kadang-kadang ia tidur selama 5 hari tanpa makan atau minum sesuatu pun. Pihak universitas telah memberitahu orang tuanya untuk membawanya pulang untuk perawatan.

Orang tuanya membawanya pergi ke beberapa dokter. Tak ada yang dapat menemukan penyebab penyakitnya. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang kaya raya, dan telah mengeluarkan banyak uang untuk perawatan dokter bagi anaknya ini

Ketika semua jalan telah dicoba dan tak membawa hasil, ayahnya membawanya ke kuil. Satu dari para medium di kuil Pu- li itu berkata bahwa, sesosok makhluk telah menaruh energi yang sangat buruk kepada Liu Min-yu. Pengobatannya adalah bahwa Liu Min-yu harus menetap di kuil selama 49 hari. Ketika ia tinggal disana, nona Liu tidur terus. Setiap kali terbangun, ia terus bergumam kata-kata yang tak mengandung arti. Akhirnya, medium tersebut mengaku gagal.

Ayahnya membawanya ke kuil lain, Kuil 5 Raja. Disana mereka memohon kepada Maha Dewa Taoisme dan membakar kertas sembahyang. Ia membaik sedikit dan dari waktu ke waktu dapat tenang, tetapi umumnya ia tetap berteriakteriak. Sesekali orang – orang mendapatkan kesulitan untuk menenangkannya.

Setelah mencoba di kuil kedua ini selama 6 bulan, ayah nona Liu ini meminta tolong kepada biksu di kuil Tzu-yun. Biksu itu mengaku mempunyai sebuah kipas yang dapat mengusir semua roh jahat. Ia berkata bahwa ketika ia memeriksa nona Liu penyebab penyakitnya adalah roh ikan. Ia melafal mantra, menggunakan air yang telah dibacakan doa, dan mengipaskan kipasnya untuk mengusir para roh jahat. Ternyata tidak berhasil.

Pak Liu lalu membawa putrinya ke kuil Raja Ibu di kota Wu-chi. Medium yang bertugas disana menyelimuti tubuh nona Liu dengan hu sekujur tubuh. Nona Liu dilarang untuk diberi makan; hanya boleh minum air yang telah dibacakan doa. Setelah 4 hari mengalami perawatan seperti ini, nona Liu mendapat demam tinggi. Wajahnya menjadi gelap dan kelopak matanya menjadi putih. Ia terus bergumam tanpa arti. Lalu ia dibawa kerumah sakit jiwa untuk mendapatkan terapi dengan tenaga listrik kejutan.

Pak Hsieh berkata kepadaku, “Kami juga telah mengunjungi guru Buddhisme yang terkenal, Master Li. Ia berkata bahwa ia hanya seorang guru Dharma. Aku jadi terpikir bahwa kamu yang mempunyai semacam kekuatan batin akan dapat menolong. Bila kamu tidak menolong, nona ini bisa meninggal hari ini! Ia bergumam bahwa ada dua roh yang datang untuk mengambilnya malam ini.”

Ketika kami tiba di Wu-feng Center aku membungkukkan badan dihadapan arca Buddha di ruangan utama, memberi hormat. Beberapa orang duduk dalam bentuk lingkaran melafal nama Buddha untuk nona Liu itu. Aku begitu terharu, terutama karena malam itu adalah malam tahun baru. Nona Liu Min-yu ada disana, berbicara dengan suara keras, kadang berteriak-teriak. Ia berulang kali mengatakan bahwa ia sudah tidak dapat hidup lagi dan bahwa seseorang akan datang mengambilnya. Ia menunjuk kepada mereka yang sedang melafal mantra, “Tak ada gunanya berdoa! Dewa Kematian akan datang menjemputku!” Aku bertemu dengan ayahnya, Liu Ta, dan juga ibunya. Aku bertanya sejenak tentang situasinya, kemudian mengikuti upacara ritual tersebut untuk memohon air suci yang akan digunakan untuk memandikan Nona Liu.

Ternyata cara ini juga tidak berhasil. Aku meminta mereka yang hadir itu untuk membaca mantra mengundang Ksitigarbha Bodhisattva. Aku berdiri di tengah ruangan dan memusatkan pikiran-Ku kepada arca Ksitigarbha sambil melafal mantra mengundang beliau. Akhirnya, Aku melihat Sang Bodhisattva muncul.

Lalu berkata, ”Zaman sekarang banyak orang mengalami hal seperti ini. Ini adalah hukum karma yang membuat kegilaan. Ini memang seharusnya terjadi sesuai hukum alam.”

“Wahai Bodhisattva. Apakah ia harus meninggal malam ini?”
“Tidak. Yang terjadi pada dirinya adalah menumpuknya kesedihan dan kebencian dari banyak roh yang menaruh dendam kepadanya.”

“Dapatkah saya menolongnya?”
“Dia terikat secara karma dengan roh-roh lain yang mengganggunya. Perlu waktu untuk menyelesaikan masalah ini.” Lalu tubuh keemasan dari sang Bodhisattva perlahan-lahan sirna.

Aku menoleh kepada Liu Ta, “Putrimu dikuasai oleh roh-roh yang sangat kuat. Perlu sesuatu kekuatan besar untuk menyelesaikan kasus ini. Tetapi ia tidak akan meninggal malam ini.”

Beberapa hari kemudian Pak Liu beserta istrinya datang menemui-Ku. “Pak Lu, saya sangat berharap Anda bisa menolongnya. Kami telah berupaya segala hal.”

Aku mengangguk. “Aku akan berusaha sebaik mungkin, tetapi segalanya tergantung kepada kehendak Sang Buddha. Aku harap kekuatan Sang Buddha dapat menyembuhkan kegilaannya.”

Malam itu aku membakar dupa hio dan berdoa untuk hal ini. Terbaring di ranjang setengah tertidur, aku melihat suatu pemandangan yang misterius. Aku melihat dalam penglihatan itu malam sudah larut dan berkabut. Didekat sebuah jembatan yang panjang seorang pria sedang menyeret tubuh seorang wanita. Sebuah batu besar diikatan pada tubuh wanita itu. Ia membuang tubuh wanita itu ke dalam sungai.

Kejadian tersebut sungguh menyeramkan sehingga Aku merasa sukar bernafas. Aku merasa seakan-akan Aku adalah tubuh wanita itu.

Kemudian Aku melihat pria yang sama tadi berlari di sebuah jalan kecil dengan sebuah pedang samurai. Ia membunuh seorang pria dan membuang tubuhnya ke sebuah kolam. Ketika sang pembunuh memutar badan, yang Aku lihat adalah wanita! Ia mirip Liu Min-yu. Aku merasa terkejut dan terbangun. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi hari. Aku mencuci muka, pergi ke altar sembahyang, membakar dupa hio, dan meminta bimbingan Sang Buddha.

Buddha berkata, ”Apa yang kamu lihat dalam mimpimu adalah kehidupan Liu Min-yu dalam kehidupan yang lampau. Roh-roh yang dirugikan itu sekarang menuntut balas. Satu-satunya jalan adalah bernegosiasi dengan roh-roh yang dirugikan itu.”

Pada jam 7 pagi aku bergegas ke rumah Pak Liu dan menceritakan kepadanya tentang mimpi yang kualami itu. Mereka tak dapat berkata apa-apa. Kami semua kembali ke altar. Aku mengambil alat ramal sehingga Pak Liu dan istrinya dapat mengalami bimbingan langsung lewat alat ramal itu.

“Di dalam kehidupan Liu Min-yu yang lalu, ”menurut alat ramal tersebut,“ ia membunuh seorang pria dan seorang wanita. Dalam kehidupan yang sekarang ia bereinkarnasi menjadi seorang wanita. Korban-korbannya sekarang menuntut balas. Liu Min-yu akan gila selama 8 tahun. Setelah itu barulah pembalasan karma ini tuntas. Ini adalah hukum karma. Bahkan para dewa juga tidak berdaya. Korbannya yang pria bernama Huang. Yang wanita bernama Lin.”

Liu Ta bertanya lagi apakah ada jalan keluarnya. Menurut hasil dari alat ramal tadi, “Orang yang berbuat karma buruk, maka dialah yang harus melunasinya.”

Aku dengan hormat memohon kepada Ksitigarbha Bodhisattva untuk mengundang roh Huang dan Lin untuk menyampaikan pandapat mereka lewat alat ramal tadi.

Pada mulanya mereka bersikeras tak dapat berkompromi. Mereka menuntut pembalasan penuh atas dendam mereka.

Pak Liu dan istrinya memohon welas asih mereka, dan akhirnya kedua roh tadi mengeluarkan syarat seperti dibawah ini:

Pertama, beramal sebuah arca Buddha ke kuil atas nama Huang dan Lin. Kedua, menyelenggarakan tiga hari upacara penyeberangan roh untuk roh mereka berdua. Ketiga, berjanji untuk menyumbang uang sebanyak 4000 dollar Taiwan atas nama roh mereka berdua untuk membantu membangun kuil. Keempat, menyelenggarakan upacara penyeberangan roh pada bulan Juli setiap tahunnya selama lima tahun berturut-turut.

Karena rasa cinta mereka yang besar kepada putrinya, Pak Liu dan istri segera menyetujui untuk memenuhi semua persyaratan dari kedua roh itu. Aku bertugas memimpin upacara penyeberangan roh tiga hari berturut-turut itu. Tujuh hari setelah upacara itu Liu Min-yu kembali normal ingatannya. Satu bulan kemudian, tubuhnya pun kembali sehat dengan wajah yang cantik. Sekarang ia menjadi seorang guru sekolah.

Om Ma Ni Padme Hum

Dalam majalah dharma talk ini berisi penjelasan mengenai:

    • * Hukum Karma: Seorang Pembunuh – “Di dalam kehidupan Liu Min-yu yang lalu, ”menurut alat ramal tersebut,“ ia membunuh seorang pria dan seorang wanita. Dalam kehidupan yang sekarang ia bereinkarnasi menjadi seorang wanita. Korban – korbannya sekarang menuntut balas. Liu Min-yu akan gila selama 8 tahun. Setelah itu barulah pembalasan karma ini tuntas. Ini adalah hukum karma. Bahkan para dewa juga tidak berdaya. Korbannya yang pria bernama Huang. Yang wanita bernama Lin.”
    • * Alam Setan Kelaparan – adalah semacam hukuman untuk keserakahan. Ini adalah salah satu dari 3 alam samsara. Saya pernah menyebutkan dalam salah satu buku saya bahwa “pemberian dana makanan” dalam upacara Taois kebanyakan menarik perhatian para setan kelaparan. Setan kelaparan seperti ini harus mengandalkan kesaktian dari Sang pemimpin upacara, untuk mengubah makanan yang bernyalakan api menjadi makanan yang beramerta. Pemimpin upacara ulambana, seseorang harus memiliki kemampuan untuk mendobrak pintu neraka. Orang awam tidak menyadari kuatnya kemampuan pikiran. Jadi, dari kebajikan manusia, setan kelaparan bisa menikmati makanan yang sejuk menyegarkan.
    • * Buddha Sakyamuni Sedari Awal Telah Memberikan Saya Vyakarana – Sang Buddha mengambil pena, memberikan Saya Vyakarana (tanda ke-Buddhaan, menuliskan, “Buddha Mahaprabha Svara.”
    • * Ketidakkekalan Adalah Dharma Hidup dan Mati – “kemusnahan adalah kebahagiaan”, “ketidakkekalan adalah Dharma hidup dan mati; setelah hidup dan matimusnah, kemusnahan adalah kebahagiaan”.
    • * Diktat Hevajra Sadhana Guru Yoga Adalah Nomor Satu – Guru Yoga adalah nomor satu. Sadhana Guru Yoga adalah suatu yoga yang paling mendasar, Anda telah yoga, baru bisa ada “satu” untuk melahirkan berlaksa Dharma, fondasi dari segala Dharma berasal dari Guru, Ia akan mengajari kita. Jika kita telah kontak yoga dalam Sadhana Guru Yoga, kita baru dapat kontak yoga dengan berlaksa Dharma.
    • * Kisah Aneh di Nanshan: Mahadewa Turun ke Dunia Saha – “Saya adalah mahadewa yang turun ke dunia Saha, hariini khusus datang mencari, mencari anak Buddha sejati dari keluarga Lu, saya tidak keberatan bicara misteri.”
    • * Pukul Papan Ranjang dan Pukul Tanah
    • * Sadhana Vajrakilaya Mudah Kontak Yoga,Menaklukkan Semua Makhluk Halus dan Rintangan Kerisauan – Vajrakilaya adalah Raja Setan Mahabala, Ia menaklukkan semua setan jahat, semua setan yang tidak baik, semua musuh dan penagih utang tidak dapat menghampiri, apapun yang dimohon akan terkabulkan.
    • * Penjelasan Sutra Zhen Fo Jing Bagian XII (Selesai)
    • * 蓮生活佛講心經 -“乃至無老死,亦無老死盡”

Terima Kasih atas dukungan dan doanya.
=======================================================================================================

Bagi temen temen sedharma yang ingin mendapatkan hard copy majalah dharma talk dapat mengisi formulir berlangganan majalah dharma talk yang dapat di http://www.shenlun.org/dharma-talk

Bagi temen temen sedharma yang berminat menjadi donatur dharma talk , dapat  mengisi formulir donatur dharma talk yang dapat di peroleh di sini dan mengirimkan kembali ke redaksi Dharma Talk melalui email, post atau fax vihara.

Majalah Dharma talk juga menerima :

      • * Pemasangan kolum sutra atau mantra -Untuk informasi lebih lanjut mengenai setting, ukuran, tipe kolom mantra dan sutra dapat menghubungi redaksi melalui email di dharma.talk@shenlun.org atau contactus@shenlun.org untuk keterangan lebih lanjut
      • * Pemasangan iklan. Iklan yang terpasang di dalam Majalah Talk akan di baca dan di lihat hampir semua umat zhen fo zong dan orang yang berjodoh di seluruh Indonesia, karena majalah ini di bagi bagikan ke berbagai wilayah indonesia dan beberapa kota di negara Malaysia.

Selain dari beberapa cara yang telah di jelaskan di atas, Majalah dharma talk juga membuka cara lain bagi temen temen yang berminat untuk membantu upaya redaksi melakukan penyampaian dharma dengan:

      • * Berpartisipasi dalam tim Dharma Talk
      • * Mengirimkan cerita pengalaman kontak batin yang di alami
      • * Mengirimkan cerita yang mengandung Dharma yang berkesan
      • * Mengirimkan Foto/Gambar unik yang berhubungan dengan Budha Dharma

Redaksi Majalah Dharma Talk
Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya (聖輪雷藏寺)
Jalan sayangan Lrg. Rumah Kuning Lama No. 619 Palembang
Telp. (0711) 350 798 Fax. (0711) 320 124
Email: contactus@shenlun.org
Website: http://www.shenlun.org
Blog : http://blog.shenlun.org
Facebook: http://www.facebook.com/ViharaVajraBhumiSriwijaya
Youtube: http://www.youtube.com/j1ngen

Leave a comment

Your comment