Hukum Karma Sepatu Berwarna Merah

Majalah dharma talk edisi Oktober 2011 telah terbit dalam versi electronic dan dapat di baca dan download selengkapnya di : http://www.shenlun.org/dharma-talk/2011/oktober/. Berikut ini salah satu artikel yang berjudul Hukum Karma Sepatu Berwarna Merah dari Majalah dharma talk edisi Oktober 2011

Beberapa waktu yang lalu, selama beberapa hari, ada sebuah mobil mewah selalu parkir dirumahku. Mobil itu adalah mobil impor yang sangat istimewa dengan ukuran hampir dua kali lipat ukuran mobil biasa. Pada pagi kedua semenjak aku memperhatikan kehadiran mobil mewah tersebut, aku dapat melihat sepasang pria dan wanita duduk dimobil. Yang pria sudah berubah rambutnya, sedangkan yang wanita mengecat merah warna rambutnya. Kedua terlihat sehat dan menarik penampilannya. Pada keesokan harinya ketika aku sedang mengendarai sepedaku dari rumah, mereka mengamatiku dari dalam mobil. Ketika aku kembali dari kerja, mereka juga berada disana.

Hal ini berlangsung terus selama beberapa hari. Pada suatu malam aku kembali kerumah pada saat matahari sedang terbenam dan mendapatkan sepasang pria dan wanita itu sedang berdiri disamping pintu mobil mereka. Ketika aku masih terpisah jarak yang cukup jauh, mereka sudah membungkukkan badan kepadaku.

“Aku sudah tidak percaya”, kata wanita itu,”sampai-sampai aku bertanya kepada beberapa orang. Ternyata aku benar-benar adalah Pak Lu.” “Aku sudah tidak lagi melakukan konsultasi sejak dua tahun lalu.” “Kami bukan datang kesini sebagai orang-orang yang iseng ingin tahu. Sungguh kami tidak menyangka anda yang bernama Pak Lu. Anda berpakaian begitu sederhana tinggal dirumah yang kecil, dan mengedarai sepeda! Kami hampir saja pergi menjumpai anda. Kami memohon anda dapat berbincang-bincang dengan kami.”

Pasangan ini sangat sopan santun, tidak seperti banyak pengunjung lainnya. Seringkali ketika aku menolak beberapa orang, mereka menjadi ganas dan menuduh aku tidak mempunyai welas asih. Ada yang bahkan mengepalkan tinjunya kepadaku dan menendang pintu rumahku. Aku selalu menahan diri dalam menangani pengunjung pengunjung seperti itu. Kali ini, kesopanan pasangan ini patut dihargai.
“Apa yang dapat aku lakukan untuk kalian berdua?”
“Kami mempunyai seorang putra yang hilang ingatan.”
“Mungkin putra anda memerlukan seorang dokter jiwa.”
“Kami sudah menemui banyak dokter. Bahkan saya juga seorang dokter jiwa. Tapi putra kami bukanlah kasus yang biasa.”
Aku tidak tahu lagi bagaimana menjawab mereka.
“Nama putra kami adalah Chiao Ke-Hua”,lanjutnya. “Ia berusia 37 tahun. Ketika gejala-gejala kegilaanya muncul, ia tergeletak dilantai bergemetar, memegang kepalanya, dan berteriak bahwa ia mengalami sakit kepala. Kelihatanya ia dalam keaadan sangat kesakitan. Waktunya selalu sama setiap kali terjadi, yaitu antara jam 2 dan jam 3 pagi. Antara jam tersebut ia akan bergumam, dan suaranya mirip suara wanita. Ia berteriak dan menghina leluhurnya menggunakan kata-kata kotor. Ketika ia sadar kembali, ia tidak ingat apa yang telah ia katakan.”

“Di jaman sekarang, orang tidak percaya bahwa orang dapat kemasukkan setan,” kataku.
“Ya, sebagai seorang dokter jiwa, saya mengetahui semua faktor kejiwaan;tetapi ketika gejala-gejala yang terjadi pada puta saya muncul, ia dapat menceritakan segala hal yang detail tentang leluhur kami yang sebelumnya ia tidak mengetahuinya. Saya telah lama bergelut didunia kedokteran. Saya selalu yakin akan ilmu pengetahuan modern dan teknologi kedokteran. Tetapi, saya juga menyadari adanya kasus-kasus yang aneh dan tidak normal. Ternyata malah terjadi pada putra kami! Mau tidak mau saya jadi percaya!”
“Hmmm, kalau begitu, tolong tuliskan tanggal lahir putra anda dan alamat kalian sekarang. Besok aku akan memberikan jawaban.”
“Terima kasih.”
“Kembali.”

Alamat yang ditinggalkan pasangan tersebut ternyata adalah sebuah alamat di negara Malaysia. Pada malam itu aku mendapatkan sebuah penglihatan yang misterius. Dewi-dewi berpakaian indah sedang menari di sebuah istana diiring musik yang merdu. Diantara dewi-dewi tersebut ada yang berpakaian hijau. Ia bergerak dengan lemah gemulai seperti seekor kupu-kupu di kembang. Kemudian aku melihat sebuah kolam dengan sosok mayat mengambang diatasnya. Wajahnya bengkak dan putih pucat, dan sebagian giginya ompong. Mayat itu memakai baju hijau dan sepatu merah yang baru. Kedua penglihatan itu berganti silih berganti selama beberapa kali.

Kemudian aku melihat seorang pria muda menemani wanita berbaju hijau itu didekat sebuah toko sepatu.
“Oh sepatu merah itu begitu cantiknya!” teriak wanita itu. “Bagaimana kalau aku belikanmu sepasang setiap hari?” kata pria itu kepada pasangannya dengan nada merayu. “Oh, kau baik sekali!” kata wanita itu sambil menyandarkan kepalanya kedada sang pria. Didalam meditasiku, aku dapat melihat gambar itu dengan jelas, tetapi aku tidak mengetahui alasan dibalik semuanya ini. Kelihatan Chio Ke Hua melukai hati wanita itu, tetapi bukanlah mereka merupakan pasangan yang begitu saling mengasihi.

Siapakah wanita itu? Aku bertanya-tanya apakah jawaban dan obat yang harus kusampaikan kepada pasangan pria wanita tua itu mereka kembali besok. Aku merasa tidak yakin apa yang harus dilakukan.

Mereka tiba dimalam berikutnya dengan penuh pengharapan dan rasa was-was.
“Apakah anda sudah menemukan sesuatu yang dapat menyembuhkan putraku?” Tanya sang wanita tua.
Wanita itu terlihat terkejut. “Oh, ia seorang wanita liar.”
“Apa pekerjaanya?”
“Ia seorang penari.”
“Apakah putra anda mempunyai hubungan dengannya?” Dimana wanita itu sekarang?
“Ia telah meninggal semenjak beberapa tahun lalu. Surat kabar mengatakan ia bunuh diri. Putraku berkencan dengannya sekali dua kali dan pernah membawanya kerumah beberapa kali. Cuma itu saja.”
“Kami harap ada obat penyembuh penyakitnya,“ kata sang suami. Tadinya aku belum yakin apa masalahnya. Tetapi sekarang aku yakin bahwa roh Annie talah menguasai Chiao Ke Hua. “Ketika anda kembali, belikan sepatu merah dan pakaikan kepada putra anda,“ kataku. “Tetapi Chiao Ke Hua kan seorang laki-laki!” sang ayah memprotes.
“Ya memang. Tetapi ia harus memakai sepatu wanita,” aku tetap bertahan.
“Hmmm,…” pria itu terdiam beberapa lama merenungkan jawaban itu.
“Saya rasa asal ia sembuh—tidak ada salahnya dicoba,” kata istrinya. Mereka mengucapkan terima kasih, membungkukkan badan, kemudian pergi.

Dalam majalah dharma talk ini berisi penjelasan mengenai:

    • * 7 Buddha Masa Lampau – Dalam Sutra Dharani Dafangdeng 《大方等陀罗尼经》 :Manjusri, Dharani ini, adalah dibabarkan oleh 7 Buddha masa lampau. Tujuh ini pada hakekatnya adalah tak terhitung, telah membabarkan Dharani ini, untuk menyelamatkan makhluk. Saat ini, 7 Buddha di Sepuluh Penjuru yang tak terhitung banyaknya, juga membabarkan Dharani ini demi menyelamatkan semua makhluk. Mantra 7 Buddha: Li Pho Li Pho Ti. Chiu Ho Chiu Ho Ti. Tho Luo Ni Ti. Ni He La Ti. Phi Li Ni Ti. Mo Ho Cia Ti. Cen Ling Chien Ti. Soha.
    • * Alam Asura – Dari sudut pandang mental, asura itu setengah baik dan setengah jahat. Di satu pihak, mereka mentaati hukum dan moral. Di lain pihak, karena suka bersaing, mereka mempunyai pikiran yang egois dan jahat yang membawa mereka pada perkelahian dan pembunuhan. Jadi, sifat baik mereka adakalanya muncul dan adakalanya lenyap. Adakalanya pikiran mereka penuh dengan kecemerlangan, adakalanya pikiran mereka penuh dengan kegelapan.
    • * Alam Hewan – Alam hewan terutama sekali berkarakterisik kebodohan. Bila seseorang kehilangan kebijaksanaan rohaninya dan bertingkah laku seperti hewan, maka ia pasti terlahir sebagai hewan dalam kehidupan mendatangnya. 6 alam tumimbal lahir berfungsi sesuai pikiran kita. Tak ada penghakiman dari luar yang menghukum orang ke alam tertentu.
    • * “Mahaguru” belajar Agama Buddha, justru mulai dari membaca Sutra Altar Patriak VI,setelah mempelajari selama bertahun-tahun, akhirnya memahami hati dan menyaksikan Buddhata, setelah memahami hati dan menyaksikan Buddhata, seketika terbuka kebijaksanaan Buddha, menerangkan Sutra Altar Patriak VI, satu persatu dengan jelas dan detil.
    • * Mencapai Tiada Kelahiran adalah Pencerahan Sejati – “Hidup mati adalah masalah besar”, “anicca sangat cepat”! Dalam waktu yang singkat, Anda pun setengah baya; selanjutnya? Usia tua; selanjutnya “meninggal dunia”, namun masih tidak sadarkan diri di sana! Patriak VI bersabda, “Mengapa tidak memahami tiada kelahiran?” Kalimat ini sangat penting, Mahaguru bicara tentang “tiada kelahiran”, Patriak VI juga bicara tentang “tiada kelahiran”. “Tiada kelahiran”, Anda tidak pernah terlahirkan? “Hati yang berlalu tidak dapat diraih, hati yang sekarang tidak dapat diraih, hati yang akan datang tidak dapat diraih”, Anda pada masa lalu, sudah berlalu; Anda pada masa sekarang, akan menjadi masa lalu; Anda pada masa depan, masih belum lahir, inilah “tiada kelahiran”.
    • * Hukum Karma Sepatu Berwarna Merah – Pada malam itu aku mendapatkan sebuah penglihatan yang misterius. Dewi-dewi berpakaian indah sedang menari di sebuah istana diiring musik yang merdu. Diantara dewi-dewi tersebut ada yang berpakaian hijau. Ia bergerak dengan lemah gemulai seperti seekor kupu-kupu di kembang. Kemudian aku melihat sebuah kolam dengan sosok mayat mengambang diatasnya. Wajahnya bengkak dan putih pucat, dan sebagian giginya ompong. Mayat itu memakai baju hijau dan sepatu merah yang baru. Kedua penglihatan itu berganti silih berganti selama beberapa kali.
    • * Silsilah Sadhana Saya – Zhen Fo Zhong adalah aliran yang Saya rintis pada kehidupan kali ini, Saya telah membukakan jalan pembangkitan roh untuk membangkitkan kepercayaan para umat, lalu akan Saya turunkan Maha Sadhana di penghujung zaman ini, agar Sadharma kembali menegak di dunia, menyelamatkan makhluk luas. Saya seorang yang menyalakan pelita, satu per satu buku ajaran spiritual telah Saya beberkan, di dalamnya terdapat Sadhana Tantra, hendaknya hargailah kesempatan ini, jangan sia-siakan kesempatan mencapai Ke-Buddha-an, sepenuh hati percaya, pasti akan berhasil.
    • * Umat Buddha Memandang Tawar dan Memahami Dunia Serta Tidak Melekat – Agama Buddha mengatakan “tidak sama dan tidak beda”, inilah prinsipnya, benda yang sama, hanya saja bertumimbal lahir di tengah ketidakkekalan, jadi anicca adalah hidup dan mati, ada kelahiran dan ada kematian, ada ini, ia akan hilang. Anicca adalah hidup dan mati, setelah hidup dan mati musnah, kemusnahan adalah kebahagiaan, saat kita melatih diri, meninggalkan kedua sisi, “kekal” dan “nihil” semua telah ditinggalkan, kita sepenuhnya menentukan sendiri diri kita sendiri, justru mendapatkan kebahagiaan sejati, bukan tumbuhan layu, bukan batu.
    • * Penjelasan Sutra Zhen Fo Jing Bagian XI

Terima Kasih atas dukungan dan doanya.
=======================================================================================================

Bagi temen temen sedharma yang ingin mendapatkan hard copy majalah dharma talk dapat mengisi formulir berlangganan majalah dharma talk yang dapat di http://www.shenlun.org/dharma-talk

Bagi temen temen sedharma yang berminat menjadi donatur dharma talk , dapat  mengisi formulir donatur dharma talk yang dapat di peroleh di sini dan mengirimkan kembali ke redaksi Dharma Talk melalui email, post atau fax vihara.

Majalah Dharma talk juga menerima :

      • * Pemasangan kolum sutra atau mantra -Untuk informasi lebih lanjut mengenai setting, ukuran, tipe kolom mantra dan sutra dapat menghubungi redaksi melalui email di dharma.talk@shenlun.org atau contactus@shenlun.org untuk keterangan lebih lanjut
      • * Pemasangan iklan. Iklan yang terpasang di dalam Majalah Talk akan di baca dan di lihat hampir semua umat zhen fo zong dan orang yang berjodoh di seluruh Indonesia, karena majalah ini di bagi bagikan ke berbagai wilayah indonesia dan beberapa kota di negara Malaysia.

Selain dari beberapa cara yang telah di jelaskan di atas, Majalah dharma talk juga membuka cara lain bagi temen temen yang berminat untuk membantu upaya redaksi melakukan penyampaian dharma dengan:

      • * Berpartisipasi dalam tim Dharma Talk
      • * Mengirimkan cerita pengalaman kontak batin yang di alami
      • * Mengirimkan cerita yang mengandung Dharma yang berkesan
      • * Mengirimkan Foto/Gambar unik yang berhubungan dengan Budha Dharma

Redaksi Majalah Dharma Talk
Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya (聖輪雷藏寺)
Jalan sayangan Lrg. Rumah Kuning Lama No. 619 Palembang
Telp. (0711) 350 798 Fax. (0711) 320 124
Email: contactus@shenlun.org
Website: http://www.shenlun.org
Blog : http://blog.shenlun.org
Facebook: http://www.facebook.com/ViharaVajraBhumiSriwijaya
Youtube: http://www.youtube.com/j1ngen

Leave a comment

Your comment