Liputan dan Dokumentasi Upacara Api Homa Amitabha Buddha 17 Agustus 2016 di VVBS Palembang

Temen – temen, Amituofo
Berikut ini adalah Video Dokumentasi dari Liputan dan Dokumentasi Upacara Api Homa Amitabha Buddha 17 Agustus 2016 :

Dharmadesana Vajra Acarya Lian Pu selengkapnya:
http://shenlun.org/share/mp3/lian_pu_17agustus2016.mp3

Liputannya adalah sebagai berikut :

Dalam rangka Bulan Ulambana (Qi Yue Ban / Cioko / Pu du), Rabu tanggal 17 Agustus 2016, VVBS menyelenggarakan Upacara Api Homa Pemberkahan dan Penyeberangan Amitabha Buddha. Upacara ini dipimpin oleh V.A Lian Pu dan di dampingi oleh para Bhikkhu Lhama.

Secara umum, dari google, Festival Zhong Yuan atau bulan ulambana, Dalam Tradisi Tionghoa, Bulan 7 Tanggal 15 menurut Penanggalan Imlek dirayakan sebagai Festival Zhong Yuan (Zhong Yuan Jie [中元节]) atau disebut juga dengan Hari Suci Ulambana dalam Agama Buddha. Festival Zhong Yuan adalah Festival tradisi Tionghoa yang mempunyai arti penghormatan dan rasa bakti kepada Leluhur yang telah meninggal dunia serta menolong makhluk yang sengsara. Dalam Masyarakat Tionghoa, Bulan 7 (kalender Imlek) yang merupakan bulan jatuhnya Festival Zhong Yuan (Zhong Yuan Jie) ini juga disebut dengan Bulan Hantu. Dalam Bahasa Inggris disebut dengan “Hungry Ghost Festival”…………..

Ada juga ang mengatakan Upacara Ulambana adalah ritual pelimpahan jasa dalam tradisi Mahayana. Upacara Ulambana biasa diadakan mulai bulan 7 tanggal 15 lunar sampai akhir bulan 7. Puncak penutupan upacara jatuh pada tanggal 29 atau 30, yang juga merupakan hari kebesaran Ksitigarbha Bodhisattwa (Di Zhang Wang Pu Sa 地藏王菩薩). Upacara ini juga bertepatan dengan upacara Sembahyang Rebutan/ Cio Ko/ Jit GweePua dalam tradisi Tionghoa. Karena itu, Ulambana sering kali disamakan dengan perayaan tersebut. Akan tetapi sebenarnya dasar filsafat dan cara praktek kedua perayaan tersebut berbeda.

Dalam tradisi Tionghoa, Sembahyang Rebutan merupakan bagian dari ritual-ritual yang berkaitan dengan musim. Acara sembahyang rebutan ini merupakan masa peralihan dari pertengahan awal tahun ke pertengahan akhir tahun/ ZhongYuanJie/ 中元節, dimana terjadi perubahan unsur Yang menjadi Yin. Saat itu dipercaya bahwa dewa pintu neraka purba (ShenLu dan YiLu), melepaskan roh-roh yang disiksa di alam bawah untuk masuk ke dunia Yang , dimana mereka memperoleh istirahat dan penghiburan, serta keringanan melalui suatu upacara ZhaoHun/招魂 atau ChaoDu/超度. Perayaan ini biasanya dilakukan selama periode 1 bulan, oleh karena itu di manca negara dikenal dengan sebutan GuiJie (festival hantu) / Ghost Month (bulan hantu). Pada sekitar 300 S.M. , masa dinasti Jin, terjadi sinkretisme upacara ini dengan Buddhisme, berdasarkan kitab Mahayana YuLanPen Jing (Ulambana Patra Sutra).

Pada momen tersebut, kelenteng mengadakan upacara untuk memberi makan para roh di alam menderita, dan upacara ritual “penyeberangan arwah”. Arwah orang yang sudah meninggal, biasanya leluhur, diundang untuk kembali dan diantar menuju ke tempat asal leluhur tersebut. Tindakan ini adalah suatu perwujudan untuk menunjukkan rasa cinta kasih dan bakti.

Kini orang sering menyamakan antara Sembahyang Rebutan, yang merupakan tradisi ‘kelenteng’, dengan ritual Ulambana versi Buddhis. Hal ini ada benar dan ada salahnya, tergantung darimana kita menilai. Tapi sebenarnya tradisi ‘penyeberangan arwah’ itu tidak terjadi begitu saja. Diawali masuknya Buddhisme ke Tiongkok, kemudian berkembang menjadi Buddhisme Mahayana Tiongkok, yang menyerap budaya setempat, pengaruh tersebutlah yang memberi warna bagi tradisi sembahyang rebutan di kelenteng………………………………

Menurut Wikipedia Festival Cioko (Hanzi: 鬼節; pinyin: gui jie; lit. sembahyang arwah umum), atau disebut juga Festival Hantu Kelaparan, adalah sebuah tradisi perayaan dalam kebudayaan Tionghoa.Festival ini juga sering disebut Festival Tionggoan (Hanzi: 中元, pinyin: zhong yuan). Suku Hakka menamakannya Chiong Si Ku yang jatuh pada pertengahan bulan ke-7 (khek=chit ngiet pan).Ritual ini sering dikaitkan dengan hari raya Taoisme Zhongyuan dan Buddhisme Ulambana.

Perayaan ini jatuh pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan Tionghoa. Bulan ke-7 Imlek juga dikenal sebagai Bulan Hantu (Chinese ghost month) di mana ada kepercayaan bahwa dalam kurun waktu satu bulan ini, pintu alam baka terbuka dan hantu-hantu di dalamnya dapat bersuka ria berpesiar ke alam manusia. Demikian halnya sehingga pada pertengahan bulan 7 diadakan perayaan dan sembahyang sebagai penghormatan kepada hantu-hantu tersebut. Tradisi ini sebenarnya merupakan produk masyarakat agraris pada zaman dahulu yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta dewa-dewa supaya panen yang biasanya jatuh di musim gugur dapat terberkati dan berlimpah. Adanya pengaruh Buddhisme memunculkan kepercayaan mengenai hantu-hantu kelaparan (makhluk Preta) yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka di dunia manusia……………………………………………

Berdasarkan penjelasan Mahaguru yang ada di Majalah Dharma Talk edisi Juli 2011 : ASAL USUL ULAMBANA

Upacara Ritual Penyelamatan Arwah/Ulambana dimulai dari saat Yang Arya Maha Mogalana. Waktu itu siswa Sang Buddha Yang Arya Maha Mogalana, sedang melakukan hidup suci bersama Sang Buddha Sakyamuni dan telah memperoleh kesaktian Mata Dewata dan Kaki Dewata.

Dengan mata dewata nya beliau melihat ibunya terjerumus dalam alam Pretta (setan kelaparan) di Neraka, badannya kurus tapi perutnya buncit, sangatlah menderita. Maka dengan kaki dewata nya beliau mengantarkan makanan kepada ibunya, tapi begitu makanan sampai di mulut ibunya segera berubah menjadi bara yang merah berkobar. Yang Arya Maha Mogalana telah habis segala upayanya, maka beliau mohon kepada Sang Buddha agar arwah ibunya dapat diselamatkan.

Sang Buddha bersabda kepada Yang Arya Maha Mogalana, bahwa ibunya semasa hidupnya telah berbuat karma buruk yang sangat berat, tak mungkin dapat diselamatkan oleh kekuatan seorang diri saja, harus mengundang para Bhikkhu dari sepuluh penjuru memanjatkan doa Sutra-Sutra Suci, membantunya dengan Siddhi Kekuatan Ilmu secara bersama-sama, dengan cara demikian barulah ibunya dapat diselamatkan……………………………. selengkapnya baca di Majalah Dharma Talk Juli 2011

Dalam karya tulis Dharmaraja Lian-sheng Sheng-yen Lu, buku ke-40 yang terdapat di TBSN Indonesia, ada tertulis : “Dahulu saya menerima petunjuk dari Tuan San-shan-jiu-hou, sehingga mengetahui bahwa membalas budi orangtua dan menyeberangkan para makhluk halus juga merupakan sebuah cara yang baik untuk memberi manfaat bagi diri sendiri, ini adalah : ‘Semua orangtua pada tujuh kehidupan yang lampau terlahir di alam bahagia, orangtua dalam kehidupan saat ini terbebas dari sakit penyakit, merupakan metode yang bermanfaat bagi diri sendiri dan insan lain, yang hidup dan yang telah meninggal dunia memperoleh manfaat, selamanya terhindar dari alam rendah, mencapai kebahagiaan sejati.’ Melalui metode ini, yang telah meninggal dunia dapat terhindar dari penderitaan di alam rendah, terlahir di alam bahagia, sedangkan yang masih hidup akan panjang usia, bahagia dan penuh berkah. Para insan di sembilan tingkat alam dan empat jenis kelahiran, para insan dan makhluk halus di delapan jenis tempat yang sukar mendengar Dharma dan semua di tiga alam rendah, semua memperoleh kesempatan bertobat dan terbebas dari samudra samsara. Membalas budi orangtua merupakan kewajiban bagi semua anak, menuntun para makhluk halus merupakan fondasi bagi Kebuddhaan, tidak peduli bagaimana pun pahalanya, yang terutama adalah membangkitkan kewelasan, menjalin afinitas yang sangat baik.”

Saya memahami, Mantra Balas Budi Orangtua : “Namo. Miliduo. Duopoyi. Suoha.” ( Dilafal : Namo Milituo Tuophoyi Suoha ) , apabila dapat dijapakan selama bulan 7 imlek, setiap hari 49 kali, dapat membalas budi orangtua. Ini merupakan metode yang mudah ditekuni bagi perorangan. Sebab tidak semua orang mampu menyelenggarakan upacara ulambana secara perorangan, namun dapat diselenggarakan secara bersama, biayanya akan lebih ringan, dan manfaatnya tetap sama. Namun bagi keluarga yang tidak mampu berpartisipasi dalam upacara ulambana, saya sarankan untuk setiap hari menjapa mantra ini 49 kali, melaksanakannya setiap hari selama bulan 7 imlek, dapat membalas budi orangtua dan menyeberangkan almarhum orangtua. Bagaikan semua keluarga melahirkan Buddha, pahala yang dihasilkan sangat besar.

Sekilas Amitabha Buddha yang ada di TBSN Indonesia :

【 Pengenalan Singkat Pratima Amitabha Buddha 】

Tubuh Amitabha Buddha ( Amituofo ) berwarna merah, mengenakan jubah kasaya, duduk bersila penuh di atas padmasana berkelopak seribu, kedua tangannya membentuk mudra dhyana menopang patra penuh dengan amrta, dengan pandangan penuh kewelasan Beliau memandang semua makhluk.

【 Kutipan Dharmadesana Mahaguru Liansheng Sheng-yen Lu 】

Amitabha Buddha merupakan salah satu dari Tiga Yidam Dharmaraja Lian-sheng, Amitabha Buddha memiliki empat puluh delapan Maha-pranidhana . Amitabha Buddha telah menuntun para insan yang tak terhingga banyaknya, oleh karena itu dipuji dengan ungkapan : “Di setiap keluarga terdapat Amitabha Buddha.”

Dalam Tantrayana, Amitabha Buddha merupakan salah satu dari Panca-jnana Mahavairocana Tathagata, yaitu : Pratyaveksanajnanam.

Dalam Garbhadhatu Mandala, Amitabha Buddha bersemayam di sebelah Barat dalam Sala Tengah Padmasana Berkelopak Delapan. Dalam Vajradhatu Mandala berada di sebelah Barat Panca-moksa-cakra, merupakan upayajnana dari Tathagata.

Ada tiga nama Amitabha Buddha :
Buddhisme Sutrayana menyebutnya : Buddha Usia Tanpa Batas ( Amitayus Buddha ) dan Buddha Cahaya Tanpa Batas ( Amitabha Buddha )

Sedangkan dalam Tantrayana disebut : Amrtaraja Tathagata.

Selain itu, Amitabha Buddha memiliki 13 Nama Agung, antara lain :
Buddha Usia Tanpa Batas, Buddha Cahaya Tanpa Batas, Buddha Cahaya Tak Bertepi, Buddha Cahaya Tanpa Rintangan, Buddha Cahaya Tanpa Tandingan, Buddha Raja Nyala Cahaya, Buddha Cahaya Murni, Buddha Cahaya Sukacita, Buddha Cahaya Prajna, Buddha Cahaya Tiada Terputus, Buddha Cahaya Tak Terperikan, Buddha Cahaya Tak Terungkapkan, Buddha Cahaya Melampaui Surya dan Candra.

Amitabha Buddha memiliki Samyakdharmacakrakaya dan Sasanacakrakaya :

Samyakdharmacakrakaya : Manjusri Bodhisattva
Sasanacakrakaya : Yamantaka Vajra

Trini Arya Sukhavatiloka adalah : Amitabha Buddha , Avalokitesvara Bodhisattva dan Mahastamaprapta Bodhisattva.

Ada dua Sutra Maha Amitabha Buddha , yang pertama adalah hasil koreksi dari Jinshiwang Rixiu dari Dinasti Song. Yang satunya adalah Amituosanyesanfosaloufotanguodurendaojing ( yang disebut juga Maha Amitabha Sutra )

Isinya mengulas : Buddha membabarkan mengenai Kumara manifestasi yang merupakan Padmakumara.

Sadhaka Zhenfo senantiasa melafal :
“Namo Amitabha Buddhaya dalam nama agung berjumlah tiga ratus enam puluh triliun seratus sembilan belas ribu lima ratus” ini tak lain adalah Kumara manifestasi atau Padmakumara. Oleh karena itu, Padmakumara adalah Amitabha Buddha.

Padma merupakan lambang bagi Amitabha Buddha…….. baca selengkapnya artikel ini di sini

Sekilas mengenai Amitabha yang ada di artikel VVBS :
Nama “Buddha Amitabha” adalah perkataan dari Bahasa Sansekerta yang diucapkan sebagai “Hyang Buddha Amitayus” adalah “Cahaya yang Tidak Terbatas”. Sebagai penguasa tanah Suci yang terletak di sebelah Barat dari bumi kita atau dari alam semesta yang penghuninya dapat menghayati kehidupan yang berkebahagiaan taraf paling tinggi, Hyang Buddha Amitabha mengajar kepada makhluk-makhluk hidup, agar mereka dapat mentransformasikan, mengubah diri mereka (dari berkehidupan atau berwatak yang belum sempurna menjadi sempurna), sehingga mereka kelak dapat diterima di Tanah Suci Hyang Buddha Amitabha, sesuai dengan sumpah Maha suci dan sejati yang telah beliau ikrarkan. Hyang Buddha Amitabha ini dibantu atau mempunyai pendamping dua Bodhisattva yaitu, Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta.

Menurut Sutra atau Kitab suci agama Buddha yang bernama “Sutra Tentang Kehidupan yang Tidak Dapat Diukur Waktunya”, sebelum beliau mencapai tingkat ke Buddhaan adalah seorang Raja. Setelah mendapat pelajaran dari Hyang Buddha yang memerintah dunia timur, beliau memutuskan di dalam pikiran beliau untuk menjalani Jalan kehidupan ke Buddhaan yang tak tersaingi atau tak terungguli oleh siapapun, dan lalu menjadi seorang Bhiksu, lama melakukan pembinaan diri, beliau telah mengucapkan ikrar sumpah Maha Suci-Nya yang terdiri dari 48 (empat puluh delapan) butir sumpah Maha Suci, isinya terutama mengenai sumpah untuk mendirikan Tanah Suci, atau Surga yang penghuninya dapat menghayati kehidupan berkebahagiaan tingkat paling tinggi, dengan hiasan-hiasan yang indah dan sangat menakjubkan. Makhluk-makhluk hidup yang mengucapkan atau memanggil nama beliau untuk memohon pertolongan akan beliau bawa mengarungi Samudera kehidupan hingga tiba di Tanah Suci yang beliau ciptakan itu……(baca selengkapnya artikel ini di sini)

Dalam sebuah buku yang berjudul Kelahiran Alam Padma 9 Tingkat, beberapa kutipan penjelasan dari Mahaguru yang terkait dengan Amitabha Buddha adalah Mahaguru mengatakan Sutra Amitabha “Sutra ini menyelamatkan umat yang tidak terhingga”, karena sutra ini merupakan Sabda Buddha dan kita meyakini BUddha, maka kita hendaknya meyakini Tanah Suci Amitabha. Kita melafalkan nama Buddha dan pelafalan kita terdengar oleh Buddha, maka Buddha akan datang menjemput.

Kita semua memiliki benih dan buah Buddha, kini setelah mendengarkan Sutra Amitabha, kita hendaknya selalu menyebarkan pahala Buddha Amitabha dengan mencetak Sutra Amitabha, senantiasa melafalkan nama BUddha atau membaca kita Sutra Buddha, dan menyebarkan Kitab Sutra ini kepada orang lain. Ini merupakan pahala besar dan perbuatan yang berarti………….

Dari penjelasan di atas, selain kita melafalkan nama Amitabha Buddha, kita juga bisa melafalkan Sutra Amitabha Buddha atau mencetak Sutra Amitabha Buddha ataupun menulis Sutra tersebut, apalagi penyaluran jasanya kita limpahkan untuk orang yang meninggal, sungguh pahala yang luar biasa.

Hari ini bertepatan juga dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. Maka hari ini adalah hari libur, sehingga Upacara diselenggarakan jam 2 siang. Pukul 13.30 WIB, vihara telah dipadati oleh umat yang ingin partisipasi. Karena hari ini bertepatan dengan bulan 7 tanggal 15 imlek, maka banyak shixiong shijie yang menulis formulir pendaftaran, membeli kertas sembayang, dll untuk para leluhur mereka. Pukul 14.00 WIB tepat upacara dimulai, Barisan muda mudi menjemput rombongan Vajra Acarya diiringi mantra Mahaguru. Tiba di Bhaktisala, Vajra Acarya mempersembahkan dupa diiringi lagu pendupaan, dilanjutkan dengan namaskara.

Proses upacara sesuai dengan tata ritual upacara api homa yaitu dari mantra pembersihan hingga mantra Mahaguru untuk memohon adhisana silsilah dari Mahaguru. Memasuki tahap inti, membentuk mudra Amitabha Buddha, Visualisasi Amitabha Buddha adalah Di atas samudera, langit cerah tak berawan, cakra chandra terbit dari permukaan samudera, di tengah cakra chandra terdapat bijaksara XIE berwarna merah, memancarkan cahaya merah yang terang benderang. Bijaksara XIE yang berada di tengah cakra chandra berputar, berubah menjadi Amitabha Buddha, kedua tangan-Nya membentuk Mudra Dhyana, membawa sebuah patra yang sarat akan amtra, memandang insan dengan pandangan maitri. Bervisualisasi amerta yang berada di dalam patra yang dibawa oleh Amitabha Buddha berubah menjadi seberkas cahaya putih melesat ke atas dan membusur memasuki ubun-ubun kepada sadhaka, sekujur tubuh sadhaka menjadi putih dan bening bagaikan kristal, segala karma buruk lenyap semua. (atau boleh juga bervisualisasi teratai di atas tangan Amitabha Buddha memancarkan cahaya putih yang terang benderang menerangi sadhaka). Mantra Amitabha Buddha : 嗡。阿彌爹哇。些. (om. a mi die wa. xie)

Kemudian mantra Amitabha Buddha mengiringi V.A Lian Pu melakukan puja api homa. Satu per satu barang persembahan di masukkan ke dalam tungku dimana sebelumnya V.A Lian Pu memberkati terlebih dahulu. Selain barang persembahan, arak, susu dan kayu homa juga di masukkan ke dalam tungku. Setelah usai memasukkan barang persembahan, V.A Lian Pu memperagakan Mudra tolak bala, pemberkahan dan penyeberangan.

Kemudian dilanjutkan dengan meditasi. Selesai meditasi, V.A Lian Pu memberkati altar Yan Sheng Wei dan Altar Wang Sheng Wei yang di gelar untuk upacara ini. Upacara dilanjutkan dengan melafalkan Gantha Usai Samadhi : 淨願莊嚴安樂利,普濟濁世諸有情;(Jing yuan zhuang yan an le li, pu ji zhuo shi zhu you qing); 西方接引證無生,阿彌陀佛我敬禮。(Xi fang jie yin zheng wu sheng, a mi tuo fo wo jing li); melafalkan sutra Amitabha Buddha, mantra 8 yidam dan puja Amitabha Buddha, sebelum memasuki penyaluran jasa, terlebih dahulu bersama – sama ke lantai 1 yaitu ke tempat meja persembahan yang telah dipenuhi oleh kue, buah, sayuran, nasi, kertas sembayang, dll yang diletakkan di luar vihara untuk dipersembahkan kepada hao xiong di (teman baik) atau bisa dibilang arwah – arwah yang bergentayangan tidak ada keluarga yang menyembayangi mereka lagi. Setelah melakukan ritual tersebut, kembali ke ruang bhaktisala dan melanjutkan membaca penyaluran jasa, mantra Sataksara, namaskara dan terakhir mantra Paripurna.

Upacara api homa selesai, untuk ceramah Vajra Acarya, bisa dengarkan di atas. Selesai menyampaikan ceramah, Vajra Acarya mewakili Mahaguru untuk memberikan abhiseka sarana dan memberikan abhiseka pemberkahan Amitabha BUddha

Upacara telah berjalan dengan sukses dan sempurna, berkat pancaran cahaya adhistana dari Mahaguru, para Buddha Bodhisattva, Yidam, Dharmapala, serta makhluk suci lainnya.

Terima kasih kepada teman – teman yang telah berpartisipasi dan mendukung seluruh kegiatan ini.
Semoga anda semua selalu diberkati oleh Mahaguru dan para Buddha Bodhisattva, yidam, para Dharmapala serta Makhluk Suci lainnya.

Om Mani Padme Hum

Informasi terkait :
* Untuk download Tata ritual sadhana Amitabha Buddha, silahkan ke sini :
http://www.shenlun.org/liturgi/tata-ritual-sadhana-amitabha-buddha/

* Untuk download Mantra Amitabha Buddha beserta bulatan penjapaan, silahkan ke sini :
http://www.shenlun.org/mantra/mantra-amitabha/

* Untuk download Sutra Amitabha Buddha beserta bulatan penjapaan, silahkan ke sini :
http://www.shenlun.org/sutra/sutra-amitabha-buddha/

* Untuk download Penyalinan Sutra Amitabha Buddha, silahkan ke sini :
http://www.shenlun.org/lainnya/download/penyalinan-sutra/

* Untuk download Mudra Amitabha Buddha beserta, silahkan ke sini :
http://www.shenlun.org/lainnya/download/mudra/

* Untuk download Artikel Amitabha Buddha, silahkan ke sini :
http://www.shenlun.org/artikel-lain/artikel-amitabha-buddha/

* Untuk download Multimedia Interaktif Info Amitabha Buddha, silahkan ke sini :
http://www.shenlun.org/multimedia/multimedia-interaktif-info-amitabha/

* Untuk download Multimedia Interaktif Info Amitabha Buddha, silahkan ke sini :
http://www.shenlun.org/multimedia/multimedia-suara-mantra-amitabha-buddha/

Informasi menarik lainnya :
http://www.shenlun.org
http://blog.shenlun.org

Om Mani Padme Hum.

Leave a comment

Your comment